Budaya Desa: Nilai yang Tak Tergantikan

 

Budaya Desa: Nilai yang Tak Tergantikan

Kontributor

Sumarta (Akang Marta)

 


Dalam sebuah forum yang penuh dengan semangat, seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) mengingatkan pentingnya desa sebagai pusat peradaban yang kaya akan nilai-nilai luhur. Meskipun tidak selalu mempraktikkan ajaran agama dengan cara yang sama seperti masyarakat kota, masyarakat desa memiliki cara mereka sendiri dalam menghidupi inti ajaran Islam. Menurut tokoh tersebut, meskipun orang desa tidak selalu memahami teks-teks agama seperti dalil atau hadis dengan cara yang mendalam, mereka mempraktikkan ajaran Islam melalui tindakan sederhana namun penuh makna. Salah satu contohnya adalah bagaimana mereka selalu memuliakan tamu. “Orang desa tidak tahu dalil, tapi selalu memuliakan tamu,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa kesederhanaan dan ketulusan hati mereka dalam mempraktikkan ajaran Islam tidak kalah pentingnya dengan pengetahuan agama yang mendalam.

Nilai-nilai yang diterapkan di desa sangat mencerminkan ajaran Rasulullah yang mengedepankan kebersamaan, kesederhanaan, dan saling menghormati. Salah satu contoh konkret yang sering ditemui adalah budaya tolong-menolong yang menjadi dasar kehidupan sosial di desa. Di tengah keterbatasan, warga desa cenderung saling membantu tanpa mengharapkan balasan. Budaya gotong-royong ini sangat mengakar di masyarakat desa, menciptakan ikatan sosial yang kuat dan rasa solidaritas yang tinggi. Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan di kota, di mana hubungan sosial seringkali terfragmentasi dan terdistorsi oleh kesibukan individu dan perbedaan status sosial. Desa, dengan segala kesederhanaannya, berhasil mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam, menciptakan rasa kebersamaan yang kokoh di tengah masyarakat.

Selain itu, keramahan dan kesediaan untuk berbagi adalah bagian dari budaya desa yang sangat mencolok. Saat seorang tamu datang ke desa, mereka akan disambut dengan penuh kehangatan, bahkan meski identitas mereka tidak diketahui. Teh hangat atau makanan sederhana akan segera disuguhkan, tanpa pertanyaan apapun mengenai asal-usul atau status sosial tamu tersebut. Sebaliknya, di kota-kota besar, tamu seringkali harus melewati serangkaian pertanyaan mengenai identitas mereka sebelum mereka diterima dengan baik. Ini mencerminkan perbedaan mendasar antara nilai-nilai yang ada di desa dan kota. Masyarakat desa tidak melihat status sosial sebagai penghalang dalam berinteraksi, melainkan lebih pada bagaimana menjalin hubungan manusiawi yang tulus. Budaya keramahan ini menggambarkan pengamalan prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan untuk selalu menyambut orang lain dengan kasih sayang dan tanpa membeda-bedakan.

Dalam kehidupan yang semakin dipengaruhi oleh modernisasi dan urbanisasi, nilai-nilai desa yang penuh kesederhanaan dan kebersamaan ini menjadi semakin langka. Masyarakat kota sering kali terjebak dalam rutinitas yang serba cepat dan individualistik, sehingga melupakan pentingnya hubungan sosial yang tulus dan ikhlas. Desa, dengan segala keterbatasan infrastrukturnya, justru tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang sering kali terlupakan di kota-kota besar. Ketulusan hati, keikhlasan dalam berbagi, dan sikap saling membantu adalah nilai-nilai yang tak tergantikan dalam budaya desa. Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa peradaban yang sesungguhnya tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi atau infrastruktur, tetapi juga dari kualitas hubungan antarmanusia yang penuh kasih sayang dan keikhlasan.

Ke depannya, menjaga dan melestarikan budaya desa dengan segala nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya menjadi tanggung jawab kita bersama. NU, sebagai organisasi yang lahir dan berkembang di desa, memiliki peran penting dalam memperkuat budaya ini. Dengan memanfaatkan kekuatan sosial yang ada di desa, NU dapat mendorong masyarakat untuk terus mempraktikkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah arus perubahan zaman, budaya desa yang berbasis pada nilai-nilai kesederhanaan, tolong-menolong, dan keramahan ini harus tetap menjadi warisan yang terus dipertahankan, bukan hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk masa depan peradaban Indonesia yang lebih baik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel