Harmoni Tradisi dan Modernisasi: Merawat Budaya di Era Digital
Harmoni
Tradisi dan Modernisasi: Merawat Budaya di Era Digital
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Di tengah
derasnya arus modernisasi, tantangan untuk mempertahankan tradisi budaya
semakin mendesak. Dalam konteks ini, Sultan Luqman Zulkaedin, pemimpin Keraton
Kasepuhan, menjadi sosok yang menegaskan pentingnya adaptasi dengan teknologi
sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Era digital memberikan peluang
besar bagi keraton untuk menjangkau masyarakat luas, khususnya generasi muda,
yang sering kali lebih akrab dengan layar ponsel daripada tradisi lisan. Dengan
memanfaatkan media sosial sebagai alat utama, Keraton Kasepuhan menyiarkan
berbagai kegiatan budaya, seperti upacara adat, perayaan keagamaan, hingga
dialog sejarah, yang bertujuan menghidupkan kembali semangat kecintaan terhadap
budaya.
Bagi
Sultan Luqman Zulkaedin, mengenalkan budaya kepada generasi muda bukan hanya
soal melestarikan warisan, tetapi juga soal memastikan identitas bangsa tetap
terjaga. Dalam setiap pesannya, Sultan menekankan bahwa pemahaman sejarah
merupakan kunci untuk menghargai nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.
Sejarah, menurutnya, tidak hanya merekam masa lalu tetapi juga memberikan
pelajaran berharga untuk membangun masa depan yang berakar kuat pada tradisi.
Dengan menghargai sejarah, generasi muda dapat menemukan makna lebih dalam pada
jati diri mereka di tengah dinamika zaman.
Adaptasi
teknologi yang dilakukan Keraton Kasepuhan merupakan salah satu contoh
bagaimana tradisi dapat hidup berdampingan dengan modernisasi. Sultan Luqman
dan keraton aktif menggunakan platform digital untuk mengajak masyarakat
berinteraksi dengan budaya. Dari konten edukasi hingga dokumentasi ritual adat,
semua dipresentasikan dengan cara yang menarik bagi generasi milenial dan gen
Z. Langkah ini tidak hanya membantu menjaga tradisi tetap relevan tetapi juga
memperluas jangkauan budaya Nusantara hingga ke kancah internasional. Dengan
teknologi, keraton menunjukkan bahwa budaya tidak hanya dapat bertahan tetapi
juga berkembang di tengah perubahan.
Namun,
keberhasilan menjaga tradisi tidak hanya tergantung pada teknologi tetapi juga
pada kesadaran kolektif masyarakat untuk mendukung upaya tersebut. Sultan
Luqman mengingatkan bahwa peran individu dan komunitas sangat penting dalam
memelihara kebudayaan. Partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan adat,
penghormatan terhadap nilai-nilai tradisional, dan upaya mengintegrasikan
budaya ke dalam kehidupan sehari-hari menjadi langkah nyata untuk memastikan
tradisi tetap hidup. Dengan keterlibatan semua pihak, modernisasi tidak lagi
menjadi ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat budaya di tengah dinamika
zaman.
Keraton
Kasepuhan di bawah kepemimpinan Sultan Luqman Zulkaedin adalah bukti nyata
bagaimana tradisi dapat dijaga tanpa mengorbankan relevansinya di era modern.
Harmoni antara teknologi dan nilai-nilai tradisional yang diterapkan keraton menjadi
inspirasi bagi banyak pihak dalam merawat identitas budaya mereka. Di tengah
arus globalisasi, langkah-langkah ini menunjukkan bahwa tradisi bukanlah
sesuatu yang usang, melainkan bagian esensial dari jati diri yang harus terus
dihidupkan dan diwariskan kepada generasi mendatang. Budaya, seperti halnya
sejarah, adalah pondasi yang tidak boleh pudar meski zaman terus berubah.