Makrifat dalam Perspektif Islam: Menggali Pemahaman tentang Makna, Tafsir, dan dan simbol-simbol
Makrifat dalam Perspektif Islam: Menggali Pemahaman tentang Makna, Tafsir, dan dan simbol-simbol
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Makrifat,
yang secara bahasa berarti pemahaman atau pengetahuan yang mendalam, sering
kali menjadi topik yang menarik dalam kajian spiritual dan keislaman. Dalam
konteks ini, makrifat bukan hanya sekadar mengetahui sesuatu secara dangkal,
tetapi juga menyentuh esensi dan kedalaman pemahaman mengenai hakikat hidup,
Tuhan, dan alam semesta. Konsep ini, meskipun terdengar kompleks, sebenarnya
bisa dipahami melalui tafsir-teks-teks agama dan simbol-simbol dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalam
Al-Quran, berbagai istilah digunakan untuk menggambarkan makrifat dan kaitannya
dengan pengetahuan. Salah satu contoh yang menarik adalah mengenai pohon kurma
yang diistilahkan Allah dengan "asluha sabit" (akar yang kuat di
bumi) dan "wafaruha" (dahan yang menjulang ke langit). Hal ini
menggambarkan makrifat dalam bentuk dualitas, yang memadukan pemahaman fisik
dan metafisik. Akar yang kuat melambangkan landasan pengetahuan yang kokoh,
sementara dahan yang tinggi menunjukkan pencapaian spiritual atau pemahaman
yang lebih dalam tentang kehidupan dan Tuhan.
Sama
halnya dengan istilah lainnya yang dapat dipahami dalam dua perspektif, seperti
"salat" dan "Quran". Dalam ilmu tafsir, kata-kata dalam
Al-Quran sering kali memiliki makna yang berbeda-beda tergantung pada
konteksnya. Ada lafaz yang dipahami secara 'ismiah' (nama) dan 'wasfiah'
(sifat), yang masing-masing mengarahkan pada pengertian yang lebih mendalam.
Misalnya, salat bukan hanya sekadar ritual doa, tetapi juga sarana untuk
mendekatkan diri kepada Allah, sebuah bentuk penyerahan diri yang penuh
kesadaran.
Makrifat
juga dapat dilihat dalam proses hidup yang berlandaskan pada pemahaman
spiritual yang lebih dalam. Dalam hal ini, setiap individu tidak hanya
menjalani kehidupan berdasarkan pengetahuan fisik atau material semata, tetapi
lebih pada pemahaman tentang bagaimana hidup sesuai dengan petunjuk Allah.
Seperti yang ditegaskan dalam banyak tafsir, "Furqan" atau pembeda
antara yang hak dan yang batil adalah kunci utama untuk mencapai makrifat
sejati. Melalui Al-Quran, yang disebut juga sebagai "Furqan", umat
Islam diajak untuk memahami dan menilai segala hal dengan lebih jernih,
membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta bagaimana cara hidup yang
sesuai dengan jalan Allah.
Pemahaman
makrifat ini pun berlaku dalam segala aspek kehidupan, baik itu dalam hal
salat, zakat, puasa, hingga interaksi sosial. Setiap tindakan yang dilakukan
dengan penuh kesadaran dan sesuai dengan ajaran agama, akan mengarah pada
pemahaman yang lebih tinggi tentang kehidupan dan hubungan kita dengan Tuhan.
Begitu juga dalam hal hidayah, yang menjadi faktor utama dalam makrifat. Dengan
diberikan petunjuk dari Allah, seseorang dapat mencapai pemahaman yang lebih
luas, bukan hanya dalam aspek agama, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Namun,
tak jarang, banyak orang yang masih bingung atau terjebak dalam pemahaman yang
dangkal, yang tidak menyentuh esensi makrifat. Hal ini terjadi karena banyaknya
tafsir dan penafsiran yang berbeda-beda mengenai ayat-ayat dalam Al-Quran,
sehingga menyebabkan kebingungannya. Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk
terus mendalami ilmu agama, memahami konteks ayat-ayat tersebut, serta berusaha
untuk mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, kita akan semakin
mendekatkan diri pada pemahaman yang lebih dalam tentang makrifat dan hakikat
kehidupan itu sendiri.
Makrifat,
dengan segala kedalamannya, mengajarkan kita bahwa pengetahuan spiritual bukan
hanya sekadar teori atau doktrin, tetapi sebuah perjalanan panjang yang
memerlukan kesungguhan, tawadhu, dan kesabaran. Melalui proses ini, seseorang
bisa mencapai kedamaian batin, pemahaman yang benar tentang kehidupan, serta
kemampuan untuk melihat segala hal dari perspektif yang lebih luas dan dalam.
Maka, sudah selayaknya kita berusaha untuk memahami dan mengamalkan makrifat
dalam setiap aspek kehidupan kita, untuk menuju pada kebenaran yang hakiki.