Makrifat: Menerjemahkan Konsep Kehidupan dan Kebenaran dalam Perspektif Jawa
Makrifat:
Menerjemahkan Konsep Kehidupan dan Kebenaran dalam Perspektif Jawa
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Makrifat
adalah suatu konsep yang mendalam dan seringkali tidak mudah dipahami. Dalam
konteks budaya Jawa, makrifat merujuk pada pemahaman yang lebih dalam tentang
kehidupan, kebenaran, dan hakikat manusia dalam hubungan dengan Tuhan. Konsep
ini dapat dijelaskan dengan istilah "Jao ora ono rasane," yang
berarti sebuah pengenalan atau pemahaman yang tidak dapat dijelaskan dengan
kata-kata biasa. Ini bukan hanya mengenai pengenalan fisik atau materi, tetapi
lebih pada pemahaman yang bersifat spiritual dan filosofis. Dalam masyarakat
Jawa, makrifat sering kali dihubungkan dengan perjalanan hidup yang penuh
dengan pembelajaran, penyerahan diri, dan penerimaan terhadap takdir Tuhan.
Dalam
bahasa Arab, makrifat memiliki arti sebagai pengetahuan yang lebih dalam dan
pencerahan atas sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Secara garis besar,
ini adalah pemahaman yang melampaui pengetahuan rasional dan berhubungan dengan
hakikat yang lebih tinggi, seperti yang ditemukan dalam ajaran Islam melalui
konsep ilmu pengetahuan spiritual. Meskipun demikian, dalam kehidupan
sehari-hari, terutama dalam konteks budaya Jawa, makrifat ini sering kali
diartikan sebagai kemampuan untuk mengenal seseorang, mengenal sifat-sifat
batin, dan memahami keadaan di luar penampilan fisik. Misalnya, ketika
seseorang bertanya, "Saya bertemu dengan siapa?" jawaban yang
diberikan bisa mengarah pada pemahaman apakah orang tersebut memiliki kualitas
atau sifat tertentu yang membawa kebaikan atau keburukan dalam kehidupan.
Lebih
jauh, makrifat dalam pandangan budaya Jawa melibatkan pemahaman yang mendalam
mengenai peran dan posisi manusia di dunia ini. Sebagai contoh, dalam ajaran
agama dan filsafat Jawa, makrifat tidak hanya sekadar pengetahuan tentang
dunia, tetapi juga tentang bagaimana manusia memahami dirinya sendiri dalam
hubungan dengan Tuhan. Pemahaman ini akan membawa seseorang untuk lebih tunduk,
rendah hati, dan bersyukur atas segala yang diberikan oleh Tuhan. Makrifat ini,
yang seringkali tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, memiliki kualitas yang
dapat mengubah pandangan hidup seseorang. Sebagai contoh, dalam ajaran agama
Islam, makrifat seringkali dipahami sebagai pengetahuan yang didapatkan melalui
proses spiritual yang mendalam, yang bukan hanya bisa diperoleh dari buku atau
teori, tetapi melalui pengalaman pribadi dan kedekatan dengan Allah SWT.
Filsafat
Jawa mengajarkan bahwa makrifat dapat ditemukan dalam cara hidup yang sederhana
dan penuh dengan ketulusan. Proses untuk mencapai makrifat ini tidak mudah,
karena banyak orang yang menganggap makrifat hanya dapat dicapai oleh mereka
yang memiliki pengetahuan agama yang tinggi atau kedudukan tertentu. Namun,
sebenarnya setiap individu memiliki kesempatan untuk mencapai makrifat melalui
pengabdian dan pemahaman hidup yang lebih dalam. Dalam budaya Jawa, ajaran
tentang "Jao ora ono rasane" mengandung arti bahwa pemahaman tentang
kebenaran sejati tidak hanya berdasarkan pada apa yang tampak di permukaan,
tetapi juga melalui pemahaman hati dan batin yang lebih dalam.
Konsep
ini sejalan dengan ajaran dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa pengetahuan
sejati datang melalui petunjuk Allah, yang diberikan kepada mereka yang
berserah diri dan rendah hati. Dalam hal ini, makrifat bukanlah sekadar
pencapaian intelektual, melainkan lebih pada proses pencerahan batin yang
mengarah pada kebenaran spiritual yang lebih tinggi. Dalam Islam, makrifat
dianggap sebagai pengetahuan yang datang setelah seseorang memiliki pemahaman yang
benar tentang kehidupan dan Tuhan. Ini juga berhubungan dengan konsep tawaduk
atau kerendahan hati, yang mengarah pada kebijaksanaan hidup yang sesungguhnya.
Secara
keseluruhan, makrifat dalam budaya Jawa dan Islam mengajarkan kita untuk tidak
hanya melihat dunia dari sisi fisik, tetapi juga memahami dimensi spiritual
yang lebih dalam. Setiap langkah dalam hidup adalah proses menuju pemahaman
yang lebih tinggi tentang hakikat kehidupan dan Tuhan. "Jao ora ono
rasane" mengajarkan kita untuk menerima ketidakpastian dan belajar untuk
memahami makna kehidupan dengan cara yang lebih mendalam, tidak hanya dari sisi
yang terlihat tetapi juga dari sisi yang tidak terlihat oleh mata. Ini adalah
panggilan untuk terus mencari kebenaran dan menjadi pribadi yang lebih baik,
lebih rendah hati, dan lebih dekat dengan Tuhan melalui pemahaman yang lebih
dalam.
Daftar Pustaka
Al-Qur'an.
(n.d.). Al-Qur'an al-Karim.
Nasr, S. H. (2002). Islamic Cosmology and the Role of Sound in Creation.
London: Routledge.
Snyder, C. (2017). The Power of Sound: How Music and Sound Shape Our Lives.
New York: HarperCollins.
Lederach, J. P. (1995). Building Peace: Sustainable Reconciliation in
Divided Societies. Washington, DC: United States Institute of Peace Press.