Membangun Peradaban Mulia: Peran NU dalam Menjaga Nilai Desa dan Globalisasi
Membangun
Peradaban Mulia: Peran NU dalam Menjaga Nilai Desa dan Globalisasi
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Nahdlatul
Ulama (NU) kini dihadapkan pada tantangan besar dalam mempertahankan dan
memperkuat relevansi nilai-nilai budaya desa di tengah derasnya arus
modernisasi dan globalisasi. Sebagai organisasi yang lahir dan berkembang dari
akar budaya desa, NU memiliki potensi luar biasa untuk membuktikan bahwa
ajaran-ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah, seperti kesederhanaan,
gotong-royong, dan penghormatan, dapat menjadi dasar yang kuat untuk membangun
peradaban yang lebih mulia. Meskipun dunia kini semakin cenderung terfokus pada
kemajuan teknologi dan kehidupan kota yang serba cepat, nilai-nilai desa yang
berakar pada ajaran Islam justru bisa menjadi jawaban atas masalah-masalah yang
dihadapi oleh umat manusia, baik di tingkat lokal maupun global. Peradaban yang
diajarkan oleh Rasulullah, dengan segala kesederhanaannya, menawarkan
alternatif bagi dunia yang sering kali terperangkap dalam individualisme dan
materialisme.
Salah
satu aspek yang menjadi kunci bagi NU dalam membangun peradaban mulia adalah
kemampuannya untuk tidak hanya menjaga nilai-nilai lokal, tetapi juga
menjadikannya relevan dalam konteks global. Dalam forum yang digelar, beberapa
tokoh NU menyuarakan pentingnya untuk tidak hanya membicarakan tentang
kebesaran organisasi dan sejarah panjangnya, tetapi juga tentang langkah-langkah
nyata yang harus diambil untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik. Tantangan
terbesar yang dihadapi adalah bagaimana menjadikan nilai-nilai kesederhanaan,
kebersamaan, dan keikhlasan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, yang
tidak hanya dirasakan oleh warga NU, tetapi juga memberikan dampak positif bagi
masyarakat luas. Di sinilah peran penting NU, untuk membawa ajaran-ajaran
tersebut ke dalam praktek kehidupan yang lebih luas, dan menjadikan Indonesia,
bahkan dunia, sebagai tempat yang lebih manusiawi.
Dalam
perjalanan panjang ini, NU bukan hanya berfokus pada kemajuan individu atau
kelompok tertentu. Sebaliknya, organisasi ini melihat dirinya sebagai penjaga
dan penggerak bagi kepentingan bersama, yaitu menciptakan masyarakat yang adil,
sejahtera, dan penuh kasih sayang. Seorang tokoh NU dalam forum tersebut
mengingatkan bahwa perjuangan untuk membangun peradaban mulia ini membutuhkan
dedikasi dan pengabdian yang tulus. “NU tidak hanya untuk warga NU, tetapi juga
untuk bangsa dan kemanusiaan di dunia,” katanya dengan penuh keyakinan.
Pernyataan ini mengingatkan bahwa peran NU lebih besar dari sekadar menjaga
kebudayaan lokal. Organisasi ini memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan
yang baik bagi masyarakat di seluruh dunia, dengan menampilkan nilai-nilai
luhur yang telah diwariskan oleh Rasulullah. Nilai-nilai ini dapat menjadi
dasar bagi masyarakat yang lebih adil dan berkeadilan, yang mendasarkan segala
tindakan pada kemanusiaan dan kasih sayang.
Ke depan,
NU harus mampu memadukan kearifan lokal dengan tuntutan zaman. Hal ini bukanlah
pekerjaan yang mudah, mengingat begitu cepatnya laju perubahan dalam dunia
modern. Namun, NU tetap memiliki pijakan yang kokoh pada nilai-nilai
tradisional yang penuh makna. Dalam berbagai kesempatan, NU selalu menegaskan
bahwa peradaban mulia yang ingin dibangun harus mencakup semua aspek kehidupan,
termasuk sosial, ekonomi, dan politik. Bukan hanya soal bagaimana masyarakat
dapat hidup berdampingan dengan harmonis, tetapi juga bagaimana nilai-nilai
tersebut dapat diterjemahkan dalam kebijakan yang berpihak pada rakyat,
terutama yang lemah dan terpinggirkan. Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi
NU adalah bagaimana menciptakan ruang-ruang yang memungkinkan nilai-nilai desa
tetap hidup dan berkembang meskipun di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang
serba cepat.
Sebagai
penutup, perjuangan NU dalam membangun peradaban mulia ini mengingatkan kita
pada pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan nilai-nilai moral yang
telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa. Sebagaimana yang
disampaikan oleh tokoh NU, “NU tidak hanya berkhidmat untuk warganya sendiri,
tetapi juga untuk bangsa dan kemanusiaan di dunia.” Dengan memahami bahwa
perjuangan ini adalah untuk kebaikan seluruh umat manusia, NU tetap berkomitmen
untuk menjaga nilai-nilai luhur yang ada dalam ajaran Islam, seperti
keikhlasan, kesederhanaan, dan saling tolong-menolong. Sebuah warisan yang
menjadi fondasi kokoh untuk membangun peradaban masa depan yang lebih mulia dan
lebih manusiawi, dengan segala tantangannya.