Nilai Desa vs. Budaya Kota: Menjaga Kearifan Lokal di Era Globalisasi
Nilai
Desa vs. Budaya Kota: Menjaga Kearifan Lokal di Era Globalisasi
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Dalam
pertemuan tersebut, dibahas perbedaan mencolok antara budaya desa dan budaya
kota. Budaya kota sering kali diidentikkan dengan individualisme dan
materialisme, yang cenderung mendorong orang untuk lebih memikirkan kepentingan
pribadi daripada kepentingan bersama. Hal ini sangat bertolak belakang dengan
nilai-nilai yang telah lama tumbuh di desa, seperti kebersamaan, gotong-royong,
dan kesederhanaan. Budaya kota yang modern, dengan segala dinamikanya yang
serba cepat dan berorientasi pada pencapaian materi, sering kali membuat
nilai-nilai tersebut terasa kurang relevan. Namun, para kiai desa, yang menjadi
pilar utama dalam mempertahankan budaya lokal, telah menunjukkan bahwa ajaran
Rasulullah, dengan prinsip-prinsip kesederhanaannya, masih bisa menjadi bagian
integral dari kehidupan masyarakat desa. Mereka meyakini bahwa ajaran Islam
yang berbasis pada nilai-nilai sosial yang luhur dapat menyatu dengan tradisi
lokal, meskipun dunia kini telah semakin terhubung secara global.
Namun,
tantangannya muncul ketika mencoba menjaga relevansi nilai-nilai desa dalam
kehidupan modern yang serba cepat dan terhubung. Perkembangan teknologi yang
pesat dan globalisasi yang tak terelakkan membuat kehidupan kota semakin
menonjol. Masyarakat kota, dengan gaya hidup mereka yang terfokus pada
efisiensi dan kecepatan, sering kali merasa bahwa budaya desa yang berorientasi
pada gotong-royong dan kebersamaan sudah ketinggalan zaman. Dalam banyak hal,
kehidupan kota mengedepankan nilai-nilai pragmatis, di mana hasil dan
pencapaian material menjadi ukuran utama dari keberhasilan. Sebaliknya, di
desa, nilai-nilai seperti kekeluargaan dan saling tolong-menolong adalah
fondasi yang menopang kehidupan sosial masyarakat, meskipun dalam kondisi yang
lebih sederhana. Maka, pertanyaannya adalah, bagaimana cara agar nilai-nilai
desa yang sudah mengakar kuat tersebut tetap bertahan di tengah modernitas yang
berkembang pesat?
Budaya
desa berakar pada prinsip-prinsip sederhana namun penuh makna. Gotong-royong
adalah nilai utama yang membentuk interaksi sosial di desa. Setiap anggota
masyarakat saling bergotong-royong untuk mencapai tujuan bersama tanpa
mengharapkan imbalan materi. Ini berbanding terbalik dengan budaya kota yang
lebih menekankan pada efisiensi dan pencapaian individu. Di kota, hubungan
sosial sering kali diatur oleh formalitas dan peran sosial yang lebih kaku,
sementara di desa, hubungan ini lebih cair, tidak terikat oleh status sosial,
dan berbasiskan pada kepercayaan dan solidaritas. Dalam banyak hal, budaya desa
menekankan pentingnya kebersamaan dan kesederhanaan hidup, yang tidak selalu
dapat dicapai di lingkungan kota yang terfokus pada keuntungan pribadi dan
kompetisi. Oleh karena itu, meskipun budaya kota menawarkan banyak kemudahan
dan fasilitas, budaya desa yang berakar pada gotong-royong tetap memiliki
tempat penting dalam membangun kohesi sosial dan moralitas di masyarakat.
Ketika
budaya desa berhadapan dengan dunia yang semakin didominasi oleh budaya kota,
tantangan besar adalah bagaimana mempertahankan keaslian dan relevansi budaya
tersebut. Di tengah kehidupan yang serba terhubung dan modern, nilai-nilai desa
sering kali dianggap ketinggalan zaman dan tidak lagi sesuai dengan
perkembangan zaman. Namun, seiring dengan berkembangnya kesadaran akan
pentingnya keberlanjutan dan nilai-nilai sosial yang lebih mendalam, semakin
banyak orang yang mulai menyadari pentingnya menjaga nilai-nilai desa. Sebagai
contoh, konsep kebersamaan yang diusung oleh budaya desa kini mulai diterima
sebagai salah satu cara untuk mengatasi ketidakpedulian sosial yang semakin
berkembang di kota-kota besar. Dalam menghadapi tantangan globalisasi, budaya
desa dapat menjadi sumber kekuatan untuk mengingatkan masyarakat akan
pentingnya nilai-nilai sosial yang lebih humanis dan saling menghormati.
Dengan
segala perbedaan yang ada, seharusnya nilai-nilai desa tidak perlu dianggap
sebagai sesuatu yang terpisah atau bertentangan dengan kemajuan zaman. Justru,
budaya desa yang penuh dengan kearifan lokal dapat menjadi solusi untuk
beberapa tantangan yang dihadapi oleh masyarakat modern. Dalam banyak hal,
kehidupan kota yang terfokus pada materialisme sering kali meninggalkan
kekosongan spiritual dan sosial yang dapat diisi oleh nilai-nilai desa yang
lebih manusiawi. Oleh karena itu, untuk menjaga keberlanjutan peradaban,
penting bagi masyarakat desa dan kota untuk saling mengisi dan mendukung satu
sama lain. Nilai-nilai desa, seperti gotong-royong, kebersamaan, dan
kesederhanaan, tetap relevan sebagai landasan moral untuk membangun masyarakat
yang lebih adil, harmonis, dan beradab, meskipun dunia terus berubah.