NU dan Tantangan Membangun Peradaban Berbasis Nilai Desa
NU dan
Tantangan Membangun Peradaban Berbasis Nilai Desa
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Nahdlatul
Ulama (NU) sebagai organisasi yang lahir dan tumbuh dari desa memiliki akar
kuat dalam membangun peradaban berdasarkan nilai-nilai agama yang diajarkan
oleh para kiai. Dalam sejarahnya, NU tidak hanya menjadi organisasi keagamaan,
tetapi juga menjadi pilar utama dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya
lokal yang telah ada di masyarakat desa. Desa, dalam pandangan NU, bukan hanya
tempat tinggal, tetapi juga tempat yang kaya akan nilai luhur yang menjadi
basis dari segala aktivitas kehidupan. Dalam konteks ini, NU memandang penting
untuk terus menghidupkan dan melestarikan budaya desa yang sarat akan
nilai-nilai ajaran Rasulullah yang telah diwariskan turun-temurun.
Sebagai
organisasi yang memiliki banyak cabang di berbagai pelosok desa, NU memiliki
potensi besar dalam mengangkat nilai-nilai desa dan menjadikannya sebagai
landasan peradaban. Kekuatan NU terletak pada kedekatannya dengan masyarakat
desa yang merasa lebih dekat dengan ajaran-ajaran Islam yang dipraktikkan dalam
keseharian mereka. Para kiai dan pesantren yang menjadi bagian dari NU,
berfungsi sebagai pendorong utama dalam mempertahankan dan mengembangkan
nilai-nilai agama dan budaya lokal. Hal ini menunjukkan bahwa NU memiliki tanggung
jawab besar untuk menjadi pelopor dalam mengembangkan peradaban yang berbasis
pada nilai-nilai desa.
Tantangan
terbesar bagi NU adalah bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai agama dan
budaya tersebut dalam konteks zaman yang terus berkembang. Dalam dunia yang
semakin modern ini, banyak nilai-nilai tradisional yang mulai terkikis oleh
pengaruh budaya kota dan globalisasi. Oleh karena itu, NU perlu terus
berinovasi dan menyesuaikan ajaran-ajaran agama dengan kebutuhan zaman. Hal ini
dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk
menyebarkan ajaran Islam yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal. Dengan
cara ini, NU dapat menjaga relevansi ajarannya dan memberikan kontribusi yang
berarti bagi peradaban desa di masa depan.
Selain
itu, tantangan lain yang dihadapi NU adalah bagaimana membangun kesadaran
kolektif di kalangan masyarakat desa untuk bersama-sama menjaga dan
mengembangkan nilai-nilai tersebut. Desa sering kali menghadapi masalah
ekonomi, sosial, dan pendidikan yang kompleks. NU sebagai organisasi besar
memiliki peran penting dalam memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut.
Melalui pendekatan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, NU dapat membangun
masyarakat desa yang mandiri, berdaya saing, dan sejahtera. Program-program
yang mendekatkan umat dengan pesantren dan para kiai bisa menjadi sarana yang
efektif dalam memperkuat nilai-nilai desa.
Akhirnya,
upaya NU untuk membangun peradaban berbasis nilai desa bukan hanya tugas para
kiai dan tokoh NU, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh lapisan
masyarakat. Melalui sinergi antara NU dan masyarakat desa, diharapkan
nilai-nilai agama dan budaya lokal dapat terus dipertahankan dan dikembangkan.
Dengan memperkuat identitas lokal, NU tidak hanya menjaga keberlanjutan ajaran
Rasulullah, tetapi juga berperan dalam mewujudkan peradaban yang berbasis pada
nilai-nilai luhur yang telah ada sejak dahulu. Ke depannya, NU diharapkan mampu
menjadi pilar utama dalam membangun peradaban desa yang sejahtera dan
berkeadilan sosial.