Ornamen Keraton: Simbol Salat dan Penghormatan kepada Walisongo
Ornamen
Keraton: Simbol Salat dan Penghormatan kepada Walisongo
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Ornamen
yang terdapat pada keraton Cirebon tidak hanya sekadar memperindah bangunan,
tetapi juga menyimpan makna yang dalam terkait dengan spiritualitas dan budaya
Islam. Salah satu elemen penting dalam keraton adalah simbol-simbol yang
mencerminkan jumlah rakaat dalam salat, yang terdiri dari lima waktu. Lima waktu
salat ini mencerminkan kewajiban umat Islam dalam menjalankan ibadah
sehari-hari dan merupakan bentuk pengingat akan pentingnya kedekatan manusia
dengan Tuhan. Dalam keraton, ornamen-ornamen ini diukir dengan penuh kehalusan
dan detail, menyiratkan bahwa setiap elemen desain memiliki makna lebih dari
sekadar dekorasi. Simbol-simbol yang menggambarkan salat ini menunjukkan betapa
dalamnya hubungan antara agama dan seni budaya, dimana keduanya saling menyatu
dan tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Cirebon.
Selain
itu, keraton juga dipenuhi dengan simbol-simbol yang menghormati Walisongo,
sembilan tokoh penyebar Islam di Nusantara. Walisongo dianggap sebagai pahlawan
yang berjasa dalam penyebaran ajaran Islam di Indonesia, khususnya di pulau
Jawa. Setiap ornamen yang menggambarkan angka sembilan mengingatkan kita akan
peran penting para Wali dalam membentuk fondasi agama Islam yang kuat di tanah
Jawa. Penghormatan terhadap Walisongo ini bisa dilihat pada berbagai elemen
keraton yang mencerminkan ajaran Islam, serta nilai-nilai yang diwariskan oleh
para wali tersebut. Kehadiran simbol-simbol Walisongo ini menjadi penegasan
bahwa keraton tidak hanya berfungsi sebagai pusat kekuasaan politik, tetapi
juga sebagai tempat untuk menjaga dan merawat tradisi keagamaan yang telah ada
sejak ratusan tahun lalu.
Simbol-simbol
yang menggambarkan jumlah rakaat dalam salat dan penghormatan kepada Walisongo
memperlihatkan integrasi yang harmonis antara agama Islam dan seni budaya
tradisional. Keraton Cirebon, sebagai salah satu contoh nyata dari penerapan
budaya Islam dalam struktur bangunan, menggabungkan elemen-elemen spiritual
dengan keindahan seni arsitektur Jawa. Seni ukir yang terdapat pada dinding,
pintu, dan jendela keraton memancarkan nilai-nilai religius, di mana angka-angka
yang mewakili jumlah rakaat salat atau angka sembilan yang melambangkan
Walisongo tidak hanya dilihat sebagai angka semata, tetapi sebagai simbol dari
kehidupan yang harus dijalani dengan kesadaran spiritual. Dalam hal ini,
keraton bukan hanya sebuah tempat tinggal raja, tetapi juga sebuah tempat yang
penuh dengan pesan moral dan spiritual yang dapat diambil sebagai pedoman
hidup.
Lebih
lanjut, ornamen-ornamen ini mencerminkan adanya pemahaman mendalam akan
hubungan antara agama, seni, dan kehidupan sosial masyarakat pada masa itu.
Penghormatan terhadap Walisongo melalui seni ukir pada keraton menggambarkan
betapa pentingnya peran tokoh-tokoh agama dalam membentuk budaya masyarakat.
Selain itu, simbol salat yang hadir dalam bentuk-bentuk ornamentasi menandakan
kesadaran tinggi akan kewajiban agama dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat
Cirebon pada waktu itu tidak hanya melihat keraton sebagai simbol kekuasaan,
tetapi juga sebagai tempat yang memuat nilai-nilai agama yang harus dijaga dan
dilestarikan. Dalam konteks ini, ornamen pada keraton Cirebon menjadi jembatan
antara tradisi budaya lokal dan ajaran agama Islam yang menyatu dalam kehidupan
masyarakat.
Pentingnya
ornamen yang mencerminkan jumlah rakaat salat dan penghormatan kepada Walisongo
menunjukkan betapa dalamnya hubungan antara keimanan dan seni budaya dalam
masyarakat Cirebon. Keraton Cirebon, sebagai pusat kerajaan sekaligus pusat
peradaban, menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai agama Islam dalam
kehidupan sehari-hari. Melalui ornamen-ornamen ini, masyarakat tidak hanya
diajarkan tentang kekuasaan duniawi, tetapi juga tentang pentingnya menjaga
hubungan dengan Tuhan melalui ibadah salat yang rutin. Keraton ini menjadi
simbol integrasi yang sempurna antara agama dan seni budaya, dan memberikan
pelajaran tentang betapa pentingnya spiritualitas dalam kehidupan sosial
masyarakat. Ornamen-ornamen ini bukan hanya bagian dari arsitektur, tetapi juga
bagian dari identitas dan jati diri masyarakat Cirebon yang sangat menghargai
warisan agama dan budaya mereka.