Perbedaan Makrifat dalam Bahasa Arab dan Jawa

 

Perbedaan Makrifat dalam Bahasa Arab dan Jawa

Kontributor

Sumarta (Akang Marta)

 


 

Makrifat dalam bahasa Arab merujuk pada pengetahuan yang diperoleh seseorang mengenai hal-hal yang sebelumnya tidak ia ketahui. Kata ini berasal dari akar kata "kaf-ra-fa", yang dalam pengertian dasarnya berarti "mengetahui" atau "mengenal". Dalam konteks ini, makrifat adalah bentuk pengetahuan yang lebih mendalam daripada sekadar pengetahuan biasa. Makrifat dalam bahasa Arab sering kali dikaitkan dengan pemahaman tentang Tuhan dan hakikat kehidupan yang hanya dapat dicapai melalui pengalaman spiritual dan pencarian yang penuh kesabaran. Dalam ajaran Islam, makrifat bukan hanya sekadar pengetahuan intelektual, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang membawa seseorang pada kesadaran yang lebih tinggi tentang eksistensi Tuhan dan realitas kehidupan. Oleh karena itu, makrifat dalam tradisi Islam lebih dari sekadar pengetahuan biasa; ia adalah bentuk pemahaman yang mendalam dan pribadi.

Di sisi lain, makrifat dalam bahasa Jawa memiliki konotasi yang lebih luas dan beragam. Dalam tradisi Jawa, makrifat tidak hanya mengacu pada pengetahuan tentang Tuhan atau hal-hal spiritual, tetapi juga mencakup pengetahuan sehari-hari mengenai hubungan antar manusia, kehidupan sosial, dan pemahaman terhadap alam semesta. Dalam hal ini, makrifat bisa jadi berupa pengetahuan yang lebih sederhana, seperti mengenali siapa orang yang kita temui, mengetahui apakah seseorang itu baik atau tidak, hingga pemahaman yang lebih dalam tentang peran kita dalam masyarakat. Makrifat dalam bahasa Jawa dapat dikatakan memiliki lebih banyak nuansa, karena ia melibatkan berbagai aspek kehidupan yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari, yang dapat mencakup aspek fisik dan sosial selain dimensi spiritual.

Perbedaan lain yang mencolok adalah bagaimana makrifat dijalani dan diperoleh dalam kedua tradisi ini. Dalam tradisi Arab, terutama dalam ajaran sufisme, makrifat lebih ditekankan pada pencapaian pengetahuan yang diperoleh melalui perjalanan spiritual yang panjang. Proses ini melibatkan pengendalian diri, pembersihan hati, dan kesadaran yang mendalam terhadap Tuhan. Ini sejalan dengan prinsip tasawuf yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dan pencerahan batin untuk mencapai makrifat. Jalan menuju makrifat dianggap penuh tantangan dan ujian, seperti jalan yang licin atau berliku. Seseorang yang berjalan di jalur ini harus melewati berbagai rintangan, baik itu godaan duniawi maupun ujian batin, untuk mencapai pemahaman yang lebih tinggi dan hakiki tentang Tuhan.

Sebaliknya, dalam tradisi Jawa, pencapaian makrifat lebih berkaitan dengan proses penghayatan dan pencarian melalui pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari. Makrifat dalam bahasa Jawa sering kali terhubung dengan pemahaman tentang keseimbangan antara duniawi dan spiritual. Oleh karena itu, jalan menuju makrifat dalam tradisi Jawa bisa dikatakan lebih terintegrasi dengan kehidupan sosial dan hubungan antar manusia. Misalnya, untuk memahami makrifat, seseorang mungkin akan melalui pengalaman hidup yang penuh dengan pelajaran sosial, seperti memahami peranannya dalam keluarga, masyarakat, dan alam sekitar. Dalam hal ini, makrifat menjadi lebih personal dan berbentuk pengalaman yang dirasakan langsung oleh individu, berbeda dengan pengetahuan yang lebih terstruktur atau abstrak dalam tradisi Islam.

Ajaran Islam mengajarkan bahwa makrifat bukan hanya merupakan pengetahuan tentang Tuhan, tetapi juga merupakan sebuah perubahan cara pandang terhadap dunia. Dalam hal ini, makrifat membawa seseorang pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai hakikat kehidupan, baik itu kehidupan dunia maupun kehidupan setelah mati. Oleh karena itu, makrifat dalam pandangan Islam bukan hanya soal memahami fakta atau informasi, tetapi juga sebuah pencapaian spiritual yang mengarah pada kedekatan dengan Tuhan. Dalam pandangan Jawa, makrifat juga dapat dilihat sebagai bentuk pemahaman yang mendalam terhadap kehidupan, tetapi lebih ditekankan pada pengetahuan praktis yang diperoleh melalui pengalaman hidup sehari-hari.

Secara keseluruhan, meskipun makrifat dalam bahasa Arab dan Jawa memiliki akar yang sama dalam arti pengetahuan atau pemahaman, perbedaan terletak pada cara pemahaman dan pencapaiannya. Dalam bahasa Arab, makrifat cenderung lebih terfokus pada pengetahuan spiritual tentang Tuhan yang diperoleh melalui perjalanan batin dan spiritual yang mendalam, sementara dalam bahasa Jawa, makrifat lebih mencakup pemahaman yang lebih praktis dan duniawi, yang mengarah pada keseimbangan hidup yang holistik. Kedua tradisi ini memberikan jalan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia dan Tuhan, namun dengan pendekatan yang berbeda dalam penghayatannya.

Daftar Pustaka

Al-Qushayri, A. (1999). Al-Risalah: Principles of Sufism. Translated by B. P. D. R. Khokhar. The Other Press.

Nasr, S. H. (1996). The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity. HarperCollins.

Soedjatmoko, M. (1997). Makrifat dalam Perspektif Jawa: Ajaran dan Pemahaman. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel