Perjalanan Spiritual dan Keilmuan Gus Maksum: Mencari Hikmah dari Setiap Langkah
Perjalanan
Spiritual dan Keilmuan Gus Maksum: Mencari Hikmah dari Setiap Langkah
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Gus
Maksum Jauhari, sosok yang dikenal dengan kebijaksanaan dan dedikasinya
terhadap agama, bukan hanya belajar di Pondok Pesantren Lirboyo, tempat ia
dilahirkan dan dibesarkan. Ia juga melakukan perjalanan panjang untuk
memperdalam ilmu agama, ilmu keilmuan, dan seni bela diri. Keinginan kuat untuk
menggali lebih dalam pengetahuan agama dan sosial membawanya ke berbagai
penjuru Pulau Jawa. Gus Maksum berguru kepada sejumlah kiai besar yang terkenal
dengan kedalaman ilmunya, di antaranya Kiai Mansur Kali Pucung, Kiai Ahmad
Kemuning, dan Kiai Mahrus Ali. Di bawah bimbingan mereka, Gus Maksum tidak
hanya memahami teori agama, tetapi juga mempraktikkan ajaran-ajaran tersebut
dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup penguatan karakter, spiritualitas,
dan pengabdian pada masyarakat.
Perjalanan
spiritual Gus Maksum tidak hanya terbatas pada pendalaman ilmu agama semata. Ia
juga menyadari bahwa kehidupan yang ideal memerlukan keseimbangan antara
kekuatan fisik dan mental. Oleh karena itu, selain mendalami ilmu agama, Gus
Maksum juga mengeksplorasi berbagai cabang ilmu bela diri dan kanuragan. Pada
masa mudanya, ia bertemu dengan seorang pesilat pengembara asal Rengas
Dengklok, Karawang, yang memperkenalkan aliran silat Cikalong. Pertemuan ini memicu
minat Gus Maksum pada seni bela diri, yang kemudian menjadi bagian tak
terpisahkan dari kehidupannya. Melalui aliran silat ini, ia menemukan pemahaman
tentang ketangguhan, disiplin, dan keharmonisan antara tubuh dan jiwa, yang
menjadi bagian dari pencarian spiritualnya.
Keinginan
Gus Maksum untuk menguasai ilmu bela diri semakin kuat setelah ia mulai
mendalami silat Cikalong. Dari ajaran pertama yang ia terima, Gus Maksum
semakin yakin bahwa ilmu bela diri bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga
tentang mengendalikan diri, menjaga emosi, dan berpegang teguh pada
prinsip-prinsip luhur. Gus Maksum kemudian melanjutkan perjalanan ke berbagai
daerah di Kediri, Blitar, dan sekitarnya untuk berguru kepada banyak ahli
silat. Setiap gurunya memberikan pengetahuan dan keterampilan yang memperkaya
wawasan Gus Maksum, baik dalam aspek fisik maupun spiritual. Dengan penuh
semangat, beliau mengasah kemampuannya, hingga akhirnya menjadi seorang
pendekar silat yang dihormati, dengan keahlian yang tak hanya berguna untuk
membela diri, tetapi juga untuk mengajarkan nilai-nilai kedisiplinan,
kehormatan, dan rasa saling menghargai.
Namun,
meskipun Gus Maksum menguasai berbagai ilmu bela diri, ia tetap mengedepankan
nilai-nilai keagamaan dalam setiap tindakannya. Bagi Gus Maksum, agama dan ilmu
bela diri tidak bisa dipisahkan; keduanya harus berjalan seiring untuk
membentuk pribadi yang utuh. Ia mengajarkan bahwa kekuatan fisik yang dimiliki
oleh seorang pendekar harus disertai dengan kelembutan hati dan kedalaman ilmu
agama. Sebagai seorang kiai, beliau selalu mengingatkan santri dan masyarakat
untuk tidak hanya mengejar kekuatan fisik, tetapi juga untuk selalu menjaga
hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Dalam pandangannya, keberhasilan
sejati tidak diukur dari seberapa banyak ilmu yang dimiliki atau seberapa hebat
kemampuan fisik yang dimiliki, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa
diberikan kepada orang lain.
Perjalanan
spiritual dan keilmuan Gus Maksum tidak hanya mengajarkan pentingnya
keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu bela diri, tetapi juga menunjukkan
kepada kita semua tentang dedikasi tanpa henti dalam mencari kebenaran. Melalui
perjuangan yang tidak kenal lelah ini, Gus Maksum berhasil menciptakan harmoni
antara jiwa dan raga, serta memberikan teladan yang menginspirasi banyak orang.
Ilmu yang diperoleh dan keahlian yang dikuasai tidak hanya menjadi miliknya,
tetapi diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pengajaran dan pembinaan
yang beliau lakukan di pesantren dan masyarakat. Gus Maksum adalah sosok yang
menunjukkan bahwa pencarian ilmu sejati adalah sebuah perjalanan tanpa akhir,
yang terus berkembang dan memberikan manfaat bagi umat manusia.