Perjuangan NU dan Tantangan Masa Kini
Perjuangan
NU dan Tantangan Masa Kini
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Perjuangan
Nahdlatul Ulama (NU) dalam mempertahankan budaya desa telah lama menjadi bagian
integral dari identitas organisasi ini. Namun, seiring dengan perubahan zaman dan
dinamika sosial yang berkembang, NU menghadapi tantangan besar yang tidak hanya
terletak pada pelestarian tradisi, tetapi juga pada bagaimana mewujudkan
peradaban yang lebih baik untuk bangsa dan dunia. Salah satu tema besar yang
kini diusung oleh NU adalah "Membangun Peradaban". Dalam konteks ini,
perjuangan NU tidak hanya berhenti pada wacana semata, tetapi harus diwujudkan
dalam langkah-langkah konkret melalui program-program yang nyata. Mengingat
pengaruh budaya kota dan globalisasi yang semakin meluas, NU perlu merumuskan
strategi yang dapat memperkuat nilai-nilai peradaban desa, yang selama ini
menjadi kekuatan utama dalam kehidupan masyarakat, sebagai landasan pembangunan
peradaban masa depan.
Sebagai
organisasi yang lahir dari desa, NU memiliki keistimewaan dalam mengangkat dan
melestarikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kehidupan masyarakat
pedesaan. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, gotong-royong, dan penghormatan
terhadap sesama telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ajaran dan budaya NU.
Namun, dalam menghadapi tantangan modernitas, nilai-nilai ini harus mampu
beradaptasi tanpa kehilangan esensinya. NU menghadapi tantangan untuk
mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam konteks pembangunan masyarakat yang
lebih luas, yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, urbanisasi, serta arus
globalisasi. Oleh karena itu, salah satu tugas penting NU saat ini adalah
bagaimana menyelaraskan antara warisan budaya desa dengan kebutuhan masyarakat
yang semakin kompleks di era global.
Membangun
peradaban yang adil dan manusiawi menjadi fokus utama dalam visi NU ke depan.
Dalam dunia yang semakin terhubung dan cepat berubah, NU harus mampu menanggapi
tantangan zaman dengan pendekatan yang relevan dan sesuai dengan konteks sosial
budaya. Peradaban baru yang dibangun haruslah berlandaskan pada prinsip-prinsip
dasar yang mendalam, yaitu kesederhanaan, kebersamaan, dan penghormatan
terhadap martabat manusia. Salah satu contoh konkret dari hal ini adalah
bagaimana NU dapat mendorong kebijakan yang mendukung kesejahteraan sosial dan
keadilan bagi semua lapisan masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di
daerah-daerah tertinggal. Langkah-langkah ini dapat memperkuat posisi NU
sebagai pelopor dalam membangun peradaban yang lebih baik, tidak hanya di tingkat
nasional, tetapi juga global.
Potensi
besar yang dimiliki oleh NU sebagai organisasi dengan jutaan anggota harus
dimaksimalkan untuk menjadi agen perubahan dalam dunia yang semakin global ini.
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu kiai, "NU tidak hanya berkhidmah
untuk warganya sendiri, tetapi juga untuk bangsa dan kemanusiaan dunia."
Pernyataan ini menggambarkan bahwa NU tidak hanya berjuang untuk kepentingan
internal organisasinya, tetapi juga memiliki tanggung jawab yang lebih besar,
yaitu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat global. Dalam hal ini, NU
dapat berperan aktif dalam memperkenalkan peradaban yang mulia dan berbasis
pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam
semesta.
Namun,
perjuangan NU dalam menghadapi tantangan masa kini bukanlah hal yang mudah.
Menghadapi arus modernisasi dan perubahan sosial yang sangat cepat, NU perlu
mengembangkan pendekatan yang lebih kreatif dan adaptif dalam memperkenalkan
nilai-nilai luhur yang dimilikinya. Dalam konteks ini, program-program yang
dirancang oleh NU harus mencakup pendidikan yang mengajarkan pentingnya
karakter, etika sosial, dan kepedulian terhadap sesama. Selain itu, NU juga
harus memperkuat jejaring kerjasama dengan berbagai pihak, baik di tingkat
nasional maupun internasional, untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan
damai. Sebagai organisasi yang sangat besar dan memiliki pengaruh yang luas, NU
memiliki potensi untuk mewujudkan perubahan signifikan, bukan hanya dalam
kehidupan umat Islam, tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas.