Pesantren Buntet: Benteng Pertahanan Umat Islam Melawan Kolonialisme
Pesantren Buntet: Benteng Pertahanan Umat Islam Melawan Kolonialisme
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Pesantren Buntet, yang telah berdiri sejak abad ke-18, tidak hanya menjadi
pusat pendidikan agama Islam, tetapi juga memainkan peran yang sangat penting
dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda.
Mbah Muqayim, pendiri Pesantren Buntet, adalah sosok yang sangat visioner
dan memiliki jiwa patriotisme yang tinggi. Beliau menyadari bahwa pendidikan
agama tidak hanya penting untuk membentuk karakter individu, tetapi juga dapat
menjadi kekuatan untuk melawan penindasan. Oleh karena itu, sejak awal
berdirinya, Pesantren Buntet telah menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah.
Ketika Belanda mengetahui eksistensi Pesantren Buntet dan pengaruhnya yang
semakin besar, mereka berusaha untuk melemahkan bahkan menghancurkan pesantren
ini. Serangan-serangan terhadap Pesantren Buntet pun tak terelakkan. Namun,
berkat kejelian dan strategi yang cerdik, Mbah Muqayim berhasil menyelamatkan
pesantren dan para santri dari kejaran Belanda.
Salah satu peristiwa penting yang menunjukkan keteguhan hati Mbah Muqayim
adalah ketika beliau berhasil membangun masjid dan pesantren baru di wilayah
Sindang Laut. Dalam situasi yang sulit dan penuh ancaman, Mbah Muqayim dan para
santri berhasil membangun kembali pesantren mereka dengan menggunakan
bahan-bahan sederhana, seperti kayu jati. Pohon jati yang digunakan sebagai
bahan bangunan ini kemudian menjadi simbol kekuatan dan keteguhan hati
masyarakat Pesantren Buntet dalam menghadapi cobaan.
Pesantren Buntet tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga
menjadi tempat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan. Para santri yang belajar
di Pesantren Buntet tidak hanya dibekali dengan ilmu agama, tetapi juga dilatih
untuk memiliki jiwa patriotisme dan siap berkorban untuk bangsa dan agama.