Pesantren Buntet: Legenda dan Sejarah di Balik Nama yang Mistis

 

Pesantren Buntet: Legenda dan Sejarah di Balik Nama yang Mistis

Kontributor

Sumarta (Akang Marta)

 


Pesantren Buntet, sebuah nama yang begitu lekat di telinga masyarakat Cirebon, menyimpan sejuta cerita dan misteri. Letaknya yang strategis di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadikan pesantren ini sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan terbesar di Jawa Barat. Namun, di balik kemegahan dan reputasinya, terdapat kisah-kisah menarik tentang asal-usul nama dan sejarah berdirinya pesantren ini.

Menurut catatan sejarah, Pesantren Buntet didirikan pada tahun 1758 oleh Mbah Muqoyyim, seorang ulama besar yang juga pernah menjabat sebagai penghulu di Keraton Kanoman Cirebon. Keputusannya untuk mendirikan pesantren ini dilatarbelakangi oleh kekecewaannya terhadap kebijakan politik yang berlaku pada saat itu. Mbah Muqoyyim memilih untuk menyingkir dari hiruk pikuk istana dan fokus pada pengembangan ilmu agama.

Namun, menariknya, nama "Buntet" sendiri memiliki makna yang lebih dalam dan sarat dengan nuansa mistis. Ada beberapa versi cerita yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul nama ini. Salah satu versi yang paling populer adalah cerita tentang seorang putri raja yang diculik oleh makhluk halus dan disembunyikan di sebuah tempat yang kemudian disebut sebagai "Buntet". Tempat persembunyian tersebut kemudian menjadi lokasi berdirinya pesantren.

Versi lain menyebutkan bahwa nama "Buntet" berasal dari kata "buntu" yang berarti "buntu atau terhenti". Konon, di tempat tersebut terdapat sebuah sungai yang aliran airnya tiba-tiba berhenti. Peristiwa ini dianggap sebagai pertanda bahwa tempat tersebut adalah tempat yang istimewa dan layak dijadikan sebagai pusat pendidikan agama.

Meskipun kebenaran dari cerita-cerita tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah, namun hal ini menunjukkan betapa lekatnya mitos dan legenda dengan sejarah berdirinya Pesantren Buntet. Cerita-cerita ini tidak hanya memperkaya khazanah budaya lokal, tetapi juga menjadi bagian integral dari identitas pesantren.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel