Rasa Aman Dalam Demokrasi: Kebutuhan Dasar yang Diutamakan

Rasa Aman: Kebutuhan Dasar yang Diutamakan



Rasa aman merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi sebelum meraih kesejahteraan lainnya. Dalam teori hierarki kebutuhan Maslow, rasa aman termasuk dalam tingkatan kedua setelah kebutuhan fisiologis, yang mencakup perlindungan dari bahaya fisik dan stabilitas lingkungan sosial (Maslow, 1943). Dalam pandangan seorang kandidat, rasa aman adalah fondasi yang tidak dapat dinegosiasikan untuk membangun masyarakat yang sehat, makmur, dan berdaya. Baginya, pembangunan yang ambisius sekalipun akan sia-sia jika tidak didukung oleh keamanan yang terjamin. Pernyataannya ini mencerminkan pentingnya keamanan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kehidupan yang berkualitas.

Dalam wawancaranya, kandidat ini menegaskan, “Percuma maju, percuma menyala, kalau tidak ada keamanan.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa keamanan bukan hanya tujuan akhir, tetapi juga prasyarat untuk mencapai kemajuan. Keamanan memberikan rasa nyaman yang memungkinkan masyarakat untuk produktif dan kreatif. Menurut Hirschman (1970), masyarakat cenderung merasa terlibat dalam proses pembangunan ketika mereka merasa aman secara fisik dan sosial. Dengan demikian, upaya untuk menciptakan keamanan bukan hanya tanggung jawab pemimpin, tetapi juga bagian dari kontrak sosial antara masyarakat dan pemimpin mereka.

Visi politik kandidat ini berpusat pada menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan layak. Visi ini tidak hanya relevan dalam konteks politik lokal, tetapi juga mencerminkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Dalam Good Governance Theory, keamanan dianggap sebagai komponen penting dalam memastikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan (Rothstein & Teorell, 2008). Kandidat ini berkomitmen untuk memprioritaskan kebijakan yang memperkuat stabilitas sosial dan keamanan publik. Dalam pandangannya, keamanan bukan hanya soal mengurangi ancaman fisik, tetapi juga mencakup membangun sistem sosial yang mendukung keadilan dan kesejahteraan.

Kehidupan bermasyarakat yang harmonis hanya dapat terwujud jika rasa aman menjadi prioritas. Kandidat ini memahami bahwa keamanan tidak hanya bersifat reaktif, seperti penanggulangan kejahatan, tetapi juga proaktif, melalui pembangunan sistem yang mencegah ketidakadilan dan ketimpangan sosial. Dalam konteks ini, pendekatannya sejalan dengan Social Contract Theory yang menekankan bahwa keamanan adalah salah satu alasan utama masyarakat membentuk pemerintahan (Hobbes, 1651). Dengan mengutamakan keamanan, ia berharap dapat membangun kepercayaan masyarakat dan menciptakan kondisi di mana pembangunan dapat berjalan lancar.

Keamanan yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga mencakup rasa aman secara emosional dan sosial. Hal ini sesuai dengan konsep keamanan manusia (human security), yang melibatkan perlindungan dari ancaman seperti kemiskinan, konflik, dan bencana lingkungan (UNDP, 1994). Kandidat ini menyoroti bahwa rasa aman mencakup kebutuhan masyarakat untuk hidup tanpa rasa takut dan kekhawatiran terhadap masa depan mereka. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada kebijakan keamanan, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Ia juga menyadari bahwa rasa aman dapat menjadi penghubung antara pemimpin dan masyarakat. Menurutnya, memilih pemimpin yang mampu menjamin keamanan adalah langkah awal dalam membangun kepercayaan publik. Teori kepercayaan sosial (social trust) menegaskan bahwa rasa aman adalah elemen penting dalam membangun hubungan saling percaya antara individu dan komunitas (Putnam, 1995). Dalam konteks ini, kandidat ini berusaha untuk menunjukkan bahwa komitmennya terhadap keamanan bukan sekadar janji kampanye, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menciptakan masyarakat yang harmonis.

Dalam realitas politik, rasa aman juga menjadi salah satu indikator keberhasilan pemimpin. Kandidat ini menegaskan bahwa keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat pembangunan infrastruktur berjalan, tetapi dari sejauh mana masyarakat merasa terlindungi. Pendekatan ini mencerminkan prinsip keberlanjutan, di mana keamanan menjadi dasar untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berjangka panjang (Brundtland Report, 1987). Ia percaya bahwa pemimpin yang mampu memberikan rasa aman akan dihormati dan dihargai oleh masyarakatnya.

Pernyataan "percuma maju, percuma menyala, kalau tidak ada keamanan" menunjukkan kesadaran mendalam akan pentingnya rasa aman dalam mendukung kemajuan. Kandidat ini mengingatkan bahwa tanpa keamanan, berbagai upaya untuk memajukan masyarakat akan sia-sia. Teori ini sejalan dengan pandangan Fukuyama (2004) yang menyebutkan bahwa stabilitas politik dan sosial adalah prasyarat untuk menciptakan kemakmuran ekonomi dan sosial. Dengan menjadikan keamanan sebagai prioritas utama, ia ingin memastikan bahwa kemajuan yang dicapai dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Ia juga menyatakan bahwa rasa aman adalah hak asasi yang harus dijamin oleh negara. Pernyataan ini merujuk pada prinsip-prinsip Universal Declaration of Human Rights (1948), yang menekankan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan dari kekerasan dan ancaman. Dalam pandangan kandidat ini, tugas pemimpin adalah menciptakan kebijakan yang melindungi masyarakat dari berbagai bentuk ancaman, baik internal maupun eksternal. Dengan demikian, ia berharap dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan potensi individu dan kolektif.

Kandidat ini percaya bahwa rasa aman yang terjamin akan mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Menurutnya, masyarakat yang merasa aman akan lebih berani mengambil inisiatif dan berkontribusi dalam menciptakan perubahan. Hal ini sejalan dengan pandangan Amartya Sen (1999), yang menyebutkan bahwa kebebasan dari rasa takut adalah salah satu dimensi penting dalam mencapai pembangunan manusia. Dalam konteks ini, kandidat ini berusaha untuk menciptakan kebijakan yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memberdayakan masyarakat.

Dalam kampanyenya, kandidat ini sering mengingatkan bahwa rasa aman adalah fondasi untuk mencapai visi besar lainnya. Ia menekankan bahwa masyarakat harus memilih pemimpin yang tidak hanya memiliki visi besar, tetapi juga mampu menciptakan rasa aman yang nyata. Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis pada kebutuhan masyarakat, ia berharap dapat membangun sistem yang mampu memberikan keamanan secara berkelanjutan. Pendekatan ini mencerminkan komitmennya untuk menjadikan rasa aman sebagai prioritas dalam setiap kebijakan yang diambil.

Sebagai penutup, kandidat ini menegaskan bahwa keamanan adalah inti dari segala upaya pembangunan. Tanpa rasa aman, semua upaya untuk menciptakan kesejahteraan akan sia-sia. Dalam pandangannya, keamanan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga bagian dari kewajiban kolektif masyarakat. Dengan menjadikan rasa aman sebagai prioritas utama, ia berharap dapat menciptakan masyarakat yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga harmonis dan berdaya secara sosial.

Kontributor

Sumarta Indramayutradisi.com

 

Referensi:

·         Hobbes, T. (1651). Leviathan. Oxford: Oxford University Press.

·         Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396.

·         Official iNews. (28 November 2024) Sebut Skenario Tuhan, Dharma Pongrekun Puji Pramono-Rano Penolong. https://www.youtube.com/@OfficialiNews

·         Putnam, R. D. (1995). Bowling Alone: America's Declining Social Capital. Journal of Democracy, 6(1), 65–78.

·         Rothstein, B., & Teorell, J. (2008). What is Quality of Government? A Theory of Impartial Political Institutions. Governance, 21(2), 165–190.

·         Sen, A. (1999). Development as Freedom. New York: Anchor Books.

·         United Nations Development Programme (UNDP). (1994). Human Development Report 1994: New Dimensions of Human Security. Oxford: Oxford University Press.

·         United Nations. (1948). Universal Declaration of Human Rights.

·         World Commission on Environment and Development (WCED). (1987). Our Common Future. Oxford: Oxford University Press.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel