Sedulur Papat Limo Pancer: Menyatukan Filosofi Jawa dan Rukun Islam dalam Arsitektur Keraton
Sedulur
Papat Limo Pancer: Menyatukan Filosofi Jawa dan Rukun Islam dalam Arsitektur
Keraton
Kontributor
Sumarta
(Akang Marta)
Arsitektur
keraton sebagai warisan budaya Indonesia memadukan elemen-elemen filosofis yang
mendalam, salah satunya adalah filosofi “Sedulur Papat Limo Pancer”. Konsep ini
sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Jawa.
Dalam desain keraton, filosofi ini diwakili oleh struktur pilar tunggal yang
menjadi pusat, dengan empat pilar lainnya yang berada di sekelilingnya. Pilar
tunggal ini melambangkan Tuhan, sebagai sumber dari segala yang ada, sementara
empat pilar yang mengelilinginya mewakili hubungan manusia dengan sesama, alam
semesta, dan kehidupan itu sendiri. Filosofi ini menggambarkan pentingnya
keseimbangan antara aspek spiritual dan duniawi yang harus dijaga dalam
kehidupan sehari-hari. Pilar-pilar yang menyokong keraton ini tidak hanya
memiliki fungsi struktural, tetapi juga berperan sebagai pengingat akan
nilai-nilai luhur yang mengatur hubungan antar manusia dan Tuhan, serta alam
semesta di sekitarnya.
Konsep
“Sedulur Papat Limo Pancer” bukan hanya sekadar filosofi dalam kehidupan sosial
masyarakat Jawa, tetapi juga sangat relevan dalam konteks spiritualitas. Dalam
kehidupan sehari-hari, filosofi ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan
yang harmonis dengan empat aspek kehidupan, yaitu sesama manusia, alam semesta,
diri sendiri, dan Tuhan. Keberadaan empat pilar yang mengelilingi pilar tunggal
tersebut menggambarkan keseimbangan yang harus dijaga dalam hidup. Hal ini
sejalan dengan ajaran moral dan spiritual yang ada dalam agama Islam, yang
menekankan pentingnya menjalani hidup dengan penuh kesadaran akan hubungan kita
dengan Allah, sesama manusia, dan alam. Melalui pemahaman yang mendalam tentang
konsep ini, masyarakat diharapkan dapat menciptakan keharmonisan dalam hidup
mereka, dengan senantiasa menjaga keseimbangan antara spiritualitas,
sosialitas, dan hubungan mereka dengan alam semesta.
Jumlah
lima dalam filosofi ini juga memiliki makna penting, yang mencerminkan Rukun
Islam sebagai fondasi keimanan umat Muslim. Dalam ajaran Islam, Rukun Islam terdiri
dari lima pokok ajaran yang harus diyakini dan dilaksanakan oleh setiap Muslim,
yaitu Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Lima pokok ajaran ini menjadi
landasan kehidupan spiritual umat Islam dan merupakan bentuk pengabdian kepada
Allah. Dalam konteks keraton, penggunaan simbol lima ini menunjukkan
keterkaitan yang erat antara filosofi Jawa dan ajaran Islam, yang keduanya
mengajarkan tentang pentingnya kehidupan yang seimbang dan harmoni dalam
menjalani kehidupan di dunia. Simbol ini mengingatkan kita bahwa setiap aspek
kehidupan, baik yang bersifat duniawi maupun spiritual, saling terkait dan
harus dijaga dengan penuh kesadaran agar kehidupan dapat berjalan dengan penuh
kedamaian dan kebahagiaan.
Dalam
struktur keraton, pilar tunggal dan empat pilar yang membentuk filosofi
“Sedulur Papat Limo Pancer” tidak hanya berfungsi sebagai elemen arsitektur
yang menambah keindahan bangunan, tetapi juga sebagai simbol pengingat tentang
pentingnya kehidupan yang seimbang. Sebagaimana halnya dalam kehidupan manusia,
keraton sebagai simbol kebudayaan harus menjaga hubungan yang harmonis dengan
sesama, alam, dan Tuhan. Pilar-pilar tersebut berfungsi sebagai penopang
kehidupan yang penuh makna, memberikan kestabilan dan kekuatan untuk menjalani
hidup dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab. Dalam hal ini, keraton tidak
hanya sekadar tempat tinggal para raja dan keluarga kerajaan, tetapi juga
sebuah ruang spiritual yang mengajarkan nilai-nilai luhur kehidupan,
mengingatkan setiap orang untuk selalu menjaga hubungan baik dengan semua unsur
yang ada di dunia ini.
Dengan
demikian, filosofi “Sedulur Papat Limo Pancer” dalam arsitektur keraton bukan
hanya sebuah simbol budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa,
tetapi juga mencerminkan nilai-nilai universal yang berlaku dalam kehidupan
beragama, terutama dalam ajaran Islam. Keterkaitan antara simbol ini dengan
Rukun Islam menunjukkan betapa pentingnya keseimbangan dalam kehidupan
spiritual dan sosial. Keraton sebagai tempat tinggal sekaligus tempat pertemuan
budaya, spiritualitas, dan sosial, mengajarkan kita bahwa untuk mencapai
kedamaian dan keharmonisan, kita harus menjaga keseimbangan dalam setiap aspek
kehidupan. Filosofi ini mengingatkan kita untuk selalu ingat akan peran kita
dalam menjaga hubungan yang baik dengan sesama, alam, dan Tuhan.