Kontroversi Revisi Regulasi dan Dinamika Politik Nasional (RUU nya dilakukan di HOTEL MEWAH)

 Kontroversi Revisi Regulasi dan Dinamika Politik Nasional

 

Protes Warga Koalisi reformasi sektor keamanan pemerhati di

bidang pertahanan yang melaksanakan rapat di Hotel Mewah oleh 
DPR RI Komisi I dengan TNI

Selamat sore, Bapak dan Ibu. Kami dari Koalisi Reformasi Sektor Keamanan, pemerhati di bidang pertahanan, menuntut agar proses pembahasan revisi undang-undang ini dihentikan karena tidak sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam legislasi. Proses ini dilakukan secara tertutup, tanpa melibatkan masyarakat sipil dalam diskusi yang seharusnya terbuka dan transparan.

Kami menjalankan fungsi pengawasan sebagai masyarakat sipil dan menolak adanya pembahasan tertutup. Kami juga menolak upaya penguatan kembali fungsi ABRI yang dapat berpotensi mengancam demokrasi sipil. Bapak dan Ibu yang terhormat, yang seharusnya menjadi wakil rakyat dan mendengarkan aspirasi masyarakat, justru berisiko melukai kepercayaan publik dengan melanjutkan proses pembahasan ini tanpa transparansi.

Dalam konteks yang lebih luas, diskusi ini terjadi di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit bagi masyarakat. Bulan Ramadan yang seharusnya penuh kegembiraan, tahun ini terasa lebih berat bagi banyak orang. Data dari Mandiri Indeks menunjukkan bahwa daya beli masyarakat menurun drastis. Banyak orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, apalagi menyambut Lebaran dengan suka cita.

Fenomena ini terlihat dari berbagai indikator ekonomi, seperti menurunnya tingkat konsumsi rumah tangga, berkurangnya jumlah tabungan masyarakat kelas menengah ke bawah, dan semakin melebarnya kesenjangan ekonomi antara kelompok kaya dan miskin. Bahkan, pusat-pusat perbelanjaan yang biasanya ramai menjelang Lebaran, seperti Tanah Abang, kini terlihat sepi. Ini bukan hanya karena peralihan ke belanja daring, tetapi juga karena daya beli masyarakat yang semakin melemah.

Di tengah situasi ini, muncul kabar bahwa DPR menggelar rapat kerja di hotel-hotel mewah di Jakarta. Salah satu yang menjadi sorotan adalah rapat pembahasan revisi RUU TNI yang dilakukan di Fairmont Hotel, sebuah hotel bintang lima di pusat kota Jakarta. Hotel ini dikenal dengan fasilitas mewahnya dan harga sewa kamar yang bisa mencapai jutaan rupiah per malam. Ini menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat, mengapa di tengah situasi ekonomi sulit, DPR justru memilih untuk mengadakan rapat di tempat yang begitu mahal?

Ketua Komisi I DPR, Utut Adianto, berargumen bahwa rapat diadakan di hotel untuk memastikan konsinyering yang lebih efektif. Konsinyering adalah metode di mana semua peserta rapat dikumpulkan dalam satu tempat untuk mendiskusikan undang-undang tanpa gangguan dari luar. Menurutnya, jika rapat dilakukan di gedung DPR, para anggota sering kali datang terlambat atau pulang lebih awal, sehingga proses pembahasan menjadi tidak optimal.

Namun, alasan ini tetap tidak dapat diterima oleh banyak pihak. Sejumlah pengamat dan netizen mempertanyakan transparansi dan urgensi mengadakan rapat di hotel mewah, mengingat DPR memiliki fasilitas rapat yang memadai di kompleks Senayan. Selain itu, anggota DPR juga sudah diberikan tunjangan perumahan dan berbagai fasilitas lainnya, sehingga tidak ada alasan kuat untuk menggunakan dana publik demi menyewa ruang pertemuan di hotel berbintang lima.

Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan yang semakin nyata antara elite politik dan rakyat biasa. Di satu sisi, banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat PHK massal dan kesulitan mendapatkan penghasilan tetap. Di sisi lain, anggota DPR justru menikmati fasilitas mewah yang dibiayai dari uang rakyat. Ini semakin mempertegas bagaimana kesenjangan sosial dan ketidakadilan ekonomi semakin melebar di Indonesia.

Di tengah situasi ini, muncul pula perdebatan mengenai posisi oposisi dalam parlemen. Saat ini, satu-satunya partai besar yang berada di luar pemerintahan adalah PDIP, namun bahkan di dalam partai tersebut terdapat faksi-faksi yang berbeda sikap. Beberapa anggota PDIP di DPR tampak lebih permisif terhadap kebijakan pemerintah, sementara faksi lainnya lebih kritis. Situasi ini membuat fungsi check and balance dalam sistem pemerintahan menjadi semakin lemah.

Sebagai contoh, dalam kasus revisi RUU TNI, beberapa pihak menilai bahwa ada potensi kembalinya dominasi militer dalam kehidupan sipil. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran besar bagi demokrasi di Indonesia. Masyarakat sipil dan organisasi pemerhati hak asasi manusia menekankan bahwa reformasi sektor keamanan harus tetap berpegang pada prinsip supremasi sipil, di mana institusi militer tetap berada di bawah kendali pemerintahan sipil.

Namun, upaya untuk membahas revisi RUU ini dilakukan secara tertutup, tanpa melibatkan publik dalam diskusi yang seharusnya terbuka. Ini menunjukkan bahwa masih ada pola pikir lama di kalangan elite politik yang lebih memilih menyelesaikan isu-isu strategis tanpa keterlibatan masyarakat. Padahal, dalam negara demokrasi, transparansi dan partisipasi publik adalah elemen penting dalam proses legislasi.

Dalam konteks yang lebih luas, polemik ini juga mencerminkan bagaimana politik di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kepentingan kelompok tertentu. Tidak hanya dalam isu revisi RUU TNI, tetapi juga dalam berbagai kebijakan lainnya, sering kali keputusan dibuat berdasarkan kompromi politik di antara elite, tanpa mempertimbangkan dampak bagi masyarakat luas. Hal ini semakin menguatkan kesan bahwa politik Indonesia masih jauh dari prinsip keterbukaan dan akuntabilitas.

Sebagai masyarakat sipil, kita memiliki tanggung jawab untuk terus mengawal proses legislasi dan memastikan bahwa kebijakan yang dihasilkan benar-benar berpihak pada rakyat. Dalam hal ini, transparansi dan keterlibatan publik harus menjadi prioritas utama. Jika pembahasan revisi RUU TNI dilakukan secara tertutup, maka kita patut mempertanyakan, siapa sebenarnya yang diuntungkan dari kebijakan ini?

Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa ketimpangan ekonomi semakin parah. Pemerintah seharusnya lebih fokus pada upaya pemulihan ekonomi dan perlindungan sosial bagi masyarakat yang terdampak krisis. Kebijakan-kebijakan yang diambil harus benar-benar mempertimbangkan kondisi ekonomi rakyat, bukan hanya kepentingan segelintir elite politik dan bisnis.

Sebagai penutup, kita harus terus bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah dan DPR. Pembahasan revisi RUU TNI yang dilakukan secara tertutup di hotel mewah adalah contoh nyata bagaimana elite politik masih jauh dari semangat keterbukaan dan keberpihakan pada rakyat. Di saat banyak orang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka, penggunaan anggaran negara untuk fasilitas mewah bagi pejabat publik adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat rakyat.

Kita tidak boleh diam. Suara masyarakat sipil harus terus diperjuangkan agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kepentingan publik, bukan hanya kepentingan segelintir elite. Oleh karena itu, mari kita kawal terus proses legislasi ini dan pastikan bahwa demokrasi di Indonesia tetap berada di jalur yang benar. Hentikan pembahasan revisi RUU TNI yang dilakukan secara tertutup, dan pastikan bahwa setiap kebijakan yang dibuat selalu berpihak pada rakyat!

Editor 

SM Indramayutradisi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel