Revolusi yang Diperlambat: Sebuah Kilas Balik

Revolusi yang Diperlambat: Sebuah Kilas Balik

Fadhil Imron Alumnus UI 
Sumber dari 2045 TV


Pada tahun 1998, Indonesia berada di ambang perubahan besar. Reformasi, yang sering disebut sebagai revolusi yang diperlambat, menjadi jalan yang diambil bangsa ini untuk menghindari kekerasan yang berlebihan. Dalam sebuah diskusi yang mendalam, muncul refleksi mengenai bagaimana perubahan tersebut terjadi dan siapa yang berkorban untuk mewujudkannya.

Latihan dan Persiapan yang Tak Terduga

Sebuah kisah yang jarang diketahui adalah bagaimana mahasiswa pada masa itu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan kekerasan. Dalam sebuah rapat mahasiswa psikologi se-Jakarta, sebuah skenario latihan dilakukan: separuh peserta berperan sebagai demonstran, sementara separuh lainnya berperan sebagai aparat. Tujuan dari latihan ini adalah mengantisipasi bagaimana aparat dapat bertindak, bahkan hingga tahap menembak mati demonstran.

Tanpa diduga, hanya seminggu setelah latihan itu, tragedi Trisakti terjadi. Empat mahasiswa meninggal, menjadi simbol perjuangan reformasi. Diskusi kemudian berkembang ke bagaimana banyaknya korban yang jatuh saat itu. Jika tidak ada persiapan, jumlah korban mungkin bisa mencapai ribuan. Bahkan, ada spekulasi bahwa sekitar 3.000 jenazah dikuburkan secara massal di TPU Pondok Rangon.

Ketakutan yang Terulang: Target Sasaran Kerusuhan

Kerusuhan Mei 1998 menjadi peristiwa yang membekas bagi komunitas Tionghoa di Indonesia. Banyak yang merasa bahwa mereka selalu menjadi target utama dalam setiap kekacauan sosial. Poster-poster yang beredar saat itu menunjukkan pola yang mirip dengan operasi-operasi sebelumnya. Bahkan, ada kejadian di mana kantor Partai Golkar di Surabaya dibakar, dengan pola dan materi poster yang identik dengan yang digunakan di Jakarta. Ini menunjukkan adanya pola yang dapat dikenali dalam aksi-aksi massa tersebut.

Apakah kejadian serupa bisa terulang? Secara teoritis, mungkin saja. Namun, para pelaku di masa lalu kini telah beranjak tua, dengan daya pikir yang tidak secerdas sebelumnya. Faktor kesehatan dan tekanan mental juga menjadi penghalang bagi mereka untuk kembali memobilisasi gerakan serupa.

Mahasiswa dan Jaket Kuning: Di Mana Mereka Sekarang?

Dalam diskusi ini, muncul pertanyaan kritis: di mana mahasiswa UI sekarang? Mengapa mereka tampak diam dalam berbagai situasi yang membutuhkan perlawanan? Dulu, ribuan mahasiswa turun ke jalan untuk menuntut perubahan. Sekarang, keberadaan mereka dalam pergerakan sosial tampak melemah.

Dosen yang telah keluar dari UI menyatakan bahwa ia masih memiliki banyak jaket kuning di rumahnya, sebagai simbol pergerakan mahasiswa. Namun, ia juga menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh diam. Jika ada sesuatu yang salah dalam pemerintahan atau kebijakan kampus, mahasiswa seharusnya menjadi garda terdepan dalam menyuarakan perubahan.

Ada peringatan bahwa jika mahasiswa tetap diam, situasi bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk. Bahkan, ada kemungkinan bahwa pemimpin kampus mendatang adalah sosok yang tidak kompeten, yang bisa membawa kehancuran bagi kredibilitas akademik institusi tersebut.

Strategi Perlawanan dan Perubahan

Diskusi kemudian beralih ke strategi yang bisa diambil oleh mahasiswa dalam menghadapi situasi yang menekan. Salah satu saran yang mencuat adalah persiapan dalam bentuk latihan membuat alat perlawanan, seperti bom Molotov. Cara-cara lama yang digunakan dalam perlawanan terhadap aparat di masa lalu masih relevan, meskipun membutuhkan penyesuaian dengan kondisi saat ini.

Sebagai contoh, ada teknik khusus dalam membuat bom Molotov agar lebih efektif. Jika diisi dengan bahan tertentu, efeknya bisa lebih dahsyat dan lebih sulit diatasi oleh aparat. Namun, tentu saja, ini adalah bentuk perlawanan ekstrem yang seharusnya menjadi pilihan terakhir dalam menghadapi penindasan.

Mitos dan Fakta tentang Demokrasi dan Militer

Dalam segmen interaktif, muncul beberapa pernyataan yang kemudian dikategorikan sebagai mitos atau fakta:

  1. Demokrasi di Indonesia hari ini lebih sehat - Mitos. Masih banyak permasalahan dalam demokrasi Indonesia, termasuk pembatasan kebebasan berpendapat dan intervensi dalam pemilihan umum.
  2. Militer tidak boleh terlibat dalam politik - Mitos. Kenyataannya, militer masih memiliki pengaruh besar dalam berbagai aspek politik dan pemerintahan.
  3. Anak muda harus ikut demo jika ingin perubahan - Fakta. Demonstrasi adalah salah satu cara untuk menyuarakan aspirasi dan menuntut perubahan dari pemerintah.
  4. TNI bukan lagi dwifungsi, melainkan multifungsi - Mitos. Konsep dwifungsi tetap ada dalam bentuk yang lebih halus, di mana militer masih memiliki peran dalam sektor sipil.

Kesimpulan: Menuju Reformasi yang Lebih Nyata

Diskusi ini menegaskan bahwa reformasi belum sepenuhnya selesai. Ada banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan, dan mahasiswa sebagai agen perubahan harus tetap waspada dan aktif.

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan pengorbanan, tetapi juga perencanaan yang matang. Dengan memahami pola-pola yang pernah terjadi di masa lalu, generasi saat ini bisa belajar untuk menghindari kesalahan yang sama dan mempercepat perubahan yang lebih baik bagi bangsa ini.


Editor

SM Indramayutradisi.com

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel