Revolusi yang Diperlambat: Sebuah Kilas Balik
Revolusi yang Diperlambat: Sebuah Kilas Balik
Pada tahun 1998, Indonesia berada di ambang perubahan besar. Reformasi, yang
sering disebut sebagai revolusi yang diperlambat, menjadi jalan yang diambil
bangsa ini untuk menghindari kekerasan yang berlebihan. Dalam sebuah diskusi
yang mendalam, muncul refleksi mengenai bagaimana perubahan tersebut terjadi
dan siapa yang berkorban untuk mewujudkannya.
Latihan dan Persiapan yang Tak Terduga
Sebuah kisah yang jarang diketahui adalah bagaimana mahasiswa pada masa itu
mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan kekerasan. Dalam sebuah rapat
mahasiswa psikologi se-Jakarta, sebuah skenario latihan dilakukan: separuh
peserta berperan sebagai demonstran, sementara separuh lainnya berperan sebagai
aparat. Tujuan dari latihan ini adalah mengantisipasi bagaimana aparat dapat
bertindak, bahkan hingga tahap menembak mati demonstran.
Tanpa diduga, hanya seminggu setelah latihan itu, tragedi Trisakti terjadi.
Empat mahasiswa meninggal, menjadi simbol perjuangan reformasi. Diskusi
kemudian berkembang ke bagaimana banyaknya korban yang jatuh saat itu. Jika
tidak ada persiapan, jumlah korban mungkin bisa mencapai ribuan. Bahkan, ada
spekulasi bahwa sekitar 3.000 jenazah dikuburkan secara massal di TPU Pondok
Rangon.
Ketakutan yang Terulang: Target Sasaran
Kerusuhan
Kerusuhan Mei 1998 menjadi peristiwa yang membekas bagi komunitas Tionghoa
di Indonesia. Banyak yang merasa bahwa mereka selalu menjadi target utama dalam
setiap kekacauan sosial. Poster-poster yang beredar saat itu menunjukkan pola
yang mirip dengan operasi-operasi sebelumnya. Bahkan, ada kejadian di mana
kantor Partai Golkar di Surabaya dibakar, dengan pola dan materi poster yang
identik dengan yang digunakan di Jakarta. Ini menunjukkan adanya pola yang
dapat dikenali dalam aksi-aksi massa tersebut.
Apakah kejadian serupa bisa terulang? Secara teoritis, mungkin saja. Namun,
para pelaku di masa lalu kini telah beranjak tua, dengan daya pikir yang tidak
secerdas sebelumnya. Faktor kesehatan dan tekanan mental juga menjadi
penghalang bagi mereka untuk kembali memobilisasi gerakan serupa.
Mahasiswa dan Jaket Kuning: Di Mana Mereka
Sekarang?
Dalam diskusi ini, muncul pertanyaan kritis: di mana mahasiswa UI sekarang?
Mengapa mereka tampak diam dalam berbagai situasi yang membutuhkan perlawanan?
Dulu, ribuan mahasiswa turun ke jalan untuk menuntut perubahan. Sekarang,
keberadaan mereka dalam pergerakan sosial tampak melemah.
Dosen yang telah keluar dari UI menyatakan bahwa ia masih memiliki banyak
jaket kuning di rumahnya, sebagai simbol pergerakan mahasiswa. Namun, ia juga
menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh diam. Jika ada sesuatu yang salah dalam
pemerintahan atau kebijakan kampus, mahasiswa seharusnya menjadi garda terdepan
dalam menyuarakan perubahan.
Ada peringatan bahwa jika mahasiswa tetap diam, situasi bisa berkembang
menjadi sesuatu yang lebih buruk. Bahkan, ada kemungkinan bahwa pemimpin kampus
mendatang adalah sosok yang tidak kompeten, yang bisa membawa kehancuran bagi
kredibilitas akademik institusi tersebut.
Strategi Perlawanan dan Perubahan
Diskusi kemudian beralih ke strategi yang bisa diambil oleh mahasiswa dalam
menghadapi situasi yang menekan. Salah satu saran yang mencuat adalah persiapan
dalam bentuk latihan membuat alat perlawanan, seperti bom Molotov. Cara-cara
lama yang digunakan dalam perlawanan terhadap aparat di masa lalu masih
relevan, meskipun membutuhkan penyesuaian dengan kondisi saat ini.
Sebagai contoh, ada teknik khusus dalam membuat bom Molotov agar lebih
efektif. Jika diisi dengan bahan tertentu, efeknya bisa lebih dahsyat dan lebih
sulit diatasi oleh aparat. Namun, tentu saja, ini adalah bentuk perlawanan
ekstrem yang seharusnya menjadi pilihan terakhir dalam menghadapi penindasan.
Mitos dan Fakta tentang Demokrasi dan Militer
Dalam segmen interaktif, muncul beberapa pernyataan yang kemudian
dikategorikan sebagai mitos atau fakta:
- Demokrasi di Indonesia hari ini lebih sehat -
Mitos. Masih banyak permasalahan dalam demokrasi Indonesia, termasuk
pembatasan kebebasan berpendapat dan intervensi dalam pemilihan umum.
- Militer tidak boleh terlibat dalam politik -
Mitos. Kenyataannya, militer masih memiliki pengaruh besar dalam berbagai
aspek politik dan pemerintahan.
- Anak muda harus ikut demo jika ingin perubahan
- Fakta. Demonstrasi adalah salah satu cara untuk menyuarakan aspirasi dan
menuntut perubahan dari pemerintah.
- TNI bukan lagi dwifungsi, melainkan multifungsi
- Mitos. Konsep dwifungsi tetap ada dalam bentuk yang lebih halus, di mana
militer masih memiliki peran dalam sektor sipil.
Kesimpulan: Menuju Reformasi yang Lebih Nyata
Diskusi ini menegaskan bahwa reformasi belum sepenuhnya selesai. Ada banyak
pekerjaan yang masih harus dilakukan, dan mahasiswa sebagai agen perubahan
harus tetap waspada dan aktif.
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan pengorbanan, tetapi juga
perencanaan yang matang. Dengan memahami pola-pola yang pernah terjadi di masa
lalu, generasi saat ini bisa belajar untuk menghindari kesalahan yang sama dan
mempercepat perubahan yang lebih baik bagi bangsa ini.
Editor
SM Indramayutradisi.com