Subsidi dan Mentalitas: Dilema Pembangunan Karakter Bangsa Bagian 2 (Kedua)

 

Subsidi dan Mentalitas: Dilema Pembangunan Karakter Bangsa

Oleh: Sumarta

Pidato Kang Dedi Mulyadi Bikin Ibu-ibu PKK

 di Depok 11 Maret 2025

Sumber: Infokabinetdanparlemen



Dalam upaya membangun kesejahteraan masyarakat, negara sering kali mengambil langkah pemberian subsidi dan bantuan. Namun, kebijakan ini bak dua mata pedang: di satu sisi meringankan beban ekonomi, di sisi lain berpotensi melumpuhkan mentalitas. Pengalaman menunjukkan, tak semua penerima bantuan mengalami perubahan hidup. Sebagian justru terjebak dalam lingkaran kemiskinan, bahkan terjerumus pada perilaku negatif.

Di negara maju sekalipun, fenomena ini tak terhindarkan. Mereka yang terus-menerus disubsidi tak kunjung mandiri, bahkan terjerumus pada gaya hidup yang merugikan. Inilah dilema yang harus diwaspadai dalam merumuskan kebijakan subsidi. Bantuan yang seharusnya memberdayakan, justru bisa menjadi candu yang melumpuhkan daya juang.

Tak hanya itu, mentalitas masyarakat pun turut terpengaruh. Antrean panjang penerima bantuan menjadi pemandangan yang lazim. Semangat gotong royong dan kerja bakti semakin luntur, tergantikan oleh budaya instan dan harapan pada bantuan semata. Fenomena ini diperparah oleh rasa ketidakadilan, ketika tetangga menerima bantuan sementara yang lain tidak.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Merombak pola pikir adalah kunci. Negara tak hanya memberikan subsidi, tetapi juga mengubah perilaku warganya. Ibu-ibu PKK, misalnya, bisa dilibatkan dalam program kebersihan lingkungan. Penerima subsidi pendidikan diwajibkan aktif dalam kegiatan sekolah dan mengembangkan keterampilan di luar jam pelajaran.

Jika tidak, gelombang kemiskinan baru akan terus mengancam. Indeks gini Jawa Barat yang tinggi menjadi bukti nyata. Pergeseran kepemilikan tanah, dari warga lokal ke pendatang, juga menjadi indikasi melemahnya daya saing masyarakat.

Di sinilah pentingnya pendidikan karakter. Anak-anak dari keluarga menengah ke bawah, yang seringkali menjadi sorotan, perlu mendapatkan perhatian khusus. Kurva terbalik terjadi: anak orang kaya cenderung baik, sementara anak dari keluarga kurang mampu justru terlibat kenakalan. Pendidikan karakter, pembentukan konektivitas politik, dan pembinaan spiritual menjadi kunci untuk mengubah nasib mereka.

Jika tidak, gelombang generasi muda yang rentan ini bisa menjadi bom waktu. Kriminalitas, narkoba, dan potensi revolusi mengintai. Oleh karena itu, program sekolah berasrama untuk anak miskin, seperti yang digagas Bapak Prabowo, menjadi langkah penting. Lingkungan rumah yang kurang kondusif membuat mereka sulit berkembang tanpa intervensi.

Lingkungan yang rusak, di mana nilai-nilai luhur tergerus, turut memperparah keadaan. Anak-anak usia sekolah berani merokok di tempat umum, tanpa rasa malu. Ini bukan soal melarang atau anti-puasa, tetapi soal karakter yang merosot tajam.

Selain karakter, pola makan juga perlu diperhatikan. Meski kondisi ekonomi terbatas, orang tua cenderung mengandalkan makanan instan. Akibatnya, hubungan emosional ibu dan anak melalui masakan hilang. Padahal, masakan ibu bukan sekadar soal gizi, tetapi juga wujud kasih sayang dan perhatian.

Program membawa bekal ke sekolah, yang digagas sebelumnya, sebenarnya bukan soal kecukupan gizi semata. Tetapi, bagaimana seorang ibu memiliki hubungan emosional dengan anaknya. Karena nasi yang dibikin oleh ibunya, ikan yang digoreng oleh ibunya, daging yang disemur oleh ibunya, maka ibunya punya ukuran untuk kesehatan anaknya.

Ia punya pertimbangan garamnya, ia punya pertimbangan gulanya, ia punya pertimbangan penyedap rasanya. Ia pakai rasa. Maka, perempuan Sunda, perempuan Betawi, perempuan Cirebon, itu semuanya sama: dia menggunakan rasa. Maka, pengelolaan rumah tangga itu menggunakan rasa. Karena menggunakan rasa, masak pakai rasa, dia tahu takaran untuk anaknya.

Hilangnya kebiasaan memasak juga berdampak pada kualitas gizi anak. Makanan instan dan jajanan pinggir jalan seringkali tinggi gula, garam, dan lemak, tetapi rendah nutrisi. Inilah yang menjadi salah satu penyebab stunting.

Oleh karena itu, negara perlu hadir dalam memberikan edukasi gizi dan mendorong kembali budaya memasak di rumah. Ibu-ibu perlu dibekali pengetahuan tentang gizi seimbang dan cara mengolah makanan sehat dengan bahan-bahan lokal.

Selain itu, program-program pemberdayaan ekonomi keluarga juga perlu digalakkan. Dengan demikian, orang tua memiliki kemampuan untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak mereka.

Dengan perpaduan antara pendidikan karakter, perbaikan pola makan, dan pemberdayaan ekonomi keluarga, diharapkan generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Subsidi dan bantuan tetap diperlukan, tetapi harus disertai dengan upaya-upaya yang holistik dan berkelanjutan. Dengan demikian, kita dapat membangun bangsa yang tidak hanya sejahtera secara materi, tetapi juga kuat secara mental dan karakter.

Artikel Terkait

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel